Kemampuan sosialisasi anak adalah sebuah poin yang penting dan menjadi pertanyaan terbanyak yang ditanyakan oleh orang tua murid. Tidak sepenuhnya benar bahwa informasi yang beredar di masyarakat mengenai homeschooling membuat anak kehilangan kemampuan sosialisasi mereka.

Kemampuan sosialisasi tidak bergantung pada metode pendidikan anak. Tetap akan ada kemungkinan bahwa seorang anak mendapatkan masalah sosialisasi meskipun mereka berada di sekolah formal. Hal ini bisa menjadi lebih riskan bagi anak karena tidak banyak sekolah formal yang memberikan fokus mereka terhadap setiap anak. Bukan berarti sekolah formal tidak bisa fokus terhadap setiap anak, namun mereka akan membutuhkan waktu yang lebih banyak.

Kemampuan sosialisasi anak yang mengambil program homeschooling bisa lebih baik dibandingkan dengan yang bersekolah di sekolah formal. Hal ini bisa disebabkan oleh berbagai macam faktor, seperti kepribadian anak, situasi dan kondisi anak, keluarga, fokus, dan lain sebagainya. Mari kita simak poin – poin penting di bawah ini.

Kemampuan Sosialisasi Anak Homeschooling Tidak Bergantung Pada Sistem Pendidikan

Anak homeschooling memang memiliki keterbatasan bertemu banyak teman saat masa pembelajaran. Tidak seperti sekolah formal yang ramai, sistem sekolah homeschooling cenderung memiliki ruang lingkup yang lebih kecil. Contohnya, homeschooling hanya terdiri dari 1 orang anak di dalam 1 keluarga. Saat proses belajar, tentu anak tersebut hanya akan bertemu dengan orang tua, guru, dan fasilitator.

Namun, jika fokus mereka saat sekolah homeschooling adalah belajar, maka mereka bisa bermain bersama teman – teman di luar jam belajar. Mereka bebas bertemu siapa saja di luar sekolah. Satu hal yang perlu dicatat, sekolah homeschooling tidak memiliki jam belajar yang tetap atau fix. Semua bergantung pada program yang disepakati. Contohnya, anak bisa saja punya program belajar 1 hari penuh dalam seminggu karena sang anak adalah atlet. Empat hari sisanya anak tersebut harus latihan, dan ia bisa menghabiskan satu hari untuk bermain.

Anak bisa Bersosialisasi sesuai dengan Lingkup Mereka

Homeschooling tidak membatasi kemampuan bersosialisasi anak. Sebaliknya, homeschooling memungkinkan sang anak untuk bersosialisasi sesuai dengan ruang lingkup, situasi, dan kondisi mereka. Kita bisa mengambil skenario pada contoh sebelumnya dimana sang anak adalah seorang atlet. Ia harus latihan 4 – 5 hari seminggu. Dua hari selebihnya bisa digunakan untuk istirahat dan homeschooling.

Apakah kita lantas mengatakan ia tidak bisa bersosialisasi? Sang anak tetap bisa bersosialisasi dengan baik bersama dengan teman – teman atlet, pelatih, pengurus dan staf gedung latihan yang biasa ia temui. Hal yang menjadi rutinitas dan profesi anak tersebut dapat membantunya bersosialisasi dengan baik sesuai dengan lingkup mereka.

Poin unggul yang bisa diambil adalah orang tua tidak perlu lagi khawatir anak berteman dengan orang yang salah karena lingkupnya sudah tersedia dengan baik. Hal yang sama juga bisa berlaku untuk kondisi yang lain. Contohnya, jika sang anak memiliki kondisi berbeda dari anak lainnya. Ia memiliki kondisi mental dimana ia tidak bisa berada di keramaian. Lantas, apakah sang anak tidak bisa bersosialisasi? Anak tetap bisa mengembangkan kemampuan sosialisasinya sesuai dengan lingkupnya secara perlahan. Bisa dimulai dengan bersosialisasi bersama saudaranya, orang tua, guru, fasilitator, satu atau dua teman terdekatnya.

Kemampuan Sosialisasi Anak Bisa Terkontrol dengan Baik

Homeschooling memberikan kemampuan dan keleluasaan lebih bagi orang tua dan anak menentukan lingkungan belajar mereka. Homeschooling bukan hanya sebagai tempat untuk belajar, namun juga untuk mempersiapkan strategi pendidikan yang menunjang profesi di masa depan.

Homeschooling memungkinkan orang tua dan anak yang memiliki obyektif tertentu untuk bisa mengontrol lingkup pertemanannya dengan baik, seperti yang sudah pernah disinggung pada poin sebelumnya. Orang tua terkadang sulit memperhatikan pergaulan anaknya di sekolah formal karena lingkup pertemanan yang luas, kontribusi yang minim, dan variasi karakteristik anak yang berbeda-beda.

Dengan sistem homeschooling, hal-hal tersebut bisa diminimalisir sesuai dengan obyektif masing – masing. Selain itu, orang tua akan lebih mudah memantau anak karena mereka punya keterlibatan yang lebih dalam proses belajar mengajar dibandingkan dengan sekolah formal.

Bagaimana? Apakah masih ragu jika kemampuan sosialisasi anak bisa terganggu karena homeschooling? Sebenarnya kemampuan bersosialisasi anak dengan sistem homeschooling sama sekali tidak berhubungan. Sosialisasi bisa terjadi dimana saja dan kapan saja. Anak tetap bisa bersosialisasi meskipun ia bersekolah di sistem homeschooling, bahkan bisa lebih baik.

Open chat
Powered by